Menyenangkan, mungkin itu kesan pertamaku
mengenal dia. Entah sejak kapan, ada rasa yang tumbuh di hati kami. Tak bisa
ditolak, dihentikan apalagi dibuang. Berusaha terus menutupi walau akhirnya
kami mengungkapkan kehadiran rasa itu.
Indah, sekian lama menjalani
hari-hari dengannya, walau kadang ada tetesan air mata, tapi setelah itu pasti
dia lukis pelangi untukku. Selalu seperti itu.
Penyemangat, penasehat, penghibur
dia bagai paket lengkap yang Tuhan kirimkan untukku. Tak pernah lelah menghibur
dan menasehatiku.
Selalu kukatakan. . istirahat
yang cukup, jangan telat makan, minum air putih yang banyak, jangan sampai
sakit. Karena secerewet itu pula dia mengingatkanku untuk menjaga kesehatan.
Masih kuingat acara perpisahan sekolah, ketika dia berjalan ke panggung untuk
berphoto bersama teman-temannya. . ada yang salah dengan caranya berjalan. Ya .
. kakinya sakit, jauh hari sebelum acara perpisahan itu dia sempat mengeluhkan
tentang kakinya. Lutut kanannya sakit, “mungkin karena sering jalan jauh”. Itu katanya.
Selang beberapa bulan dari acara
perpisahan itu, entah berapa kali dia mengeluhkan sakit di kakinya itu. Khawatir,
aku hanya bisa menyuruhnya periksa dan istirahat.
Hm. . aku ngomel, mendengar dari
adiknya dia sore-sore hujan-hujanan main bola. . kesel tau, aku di sini
khawatir, dia malah asyik main bola. Padahal kakinya belum sembuh. (Tapi ada rasa
sesal di hati, kalau saja aku tau itu adalah terakhir kalinya dia bisa main
bola. . tak kan aku memarahinya. Hikz :’(
Mendengar kabar sakit kakinya tak
kunjung sembuh, aku, zie dan mvit menjenguknya. Dia terlihat segar, sehat,
ceria hanya saja lututnya agak bengkak. Hampir saja kami tidak bertemu karena
dia mau pergi bermain dengan temannya. Ckck tak seperti orang sakit.
Itu adalah pertama kalinya aku
datang ke rumahnya. Penuh perjuangan, ternyata rumahnya sungguh jauh dari
rumahku :’D
“Patah tulang, kakiku harus dipen”.
Itu yang dia katakan padaku. Dan itu terakhir kalinya aku mendengar kabarnya
dari drinya langsung. Karena kabarnya berikutnya aku dapat dari saudara dan
teman-temannya.
HARUS DIAMPUTASI_ jasad ini serasa
tersambar petir. . tak henti air mata ini mengalir. Tak henti pula ku panjatkan
do’a untuk kesembuhannya.
Menjenguknya. . kali ini aku
ditemani fifah dia terlihat tegar, seolah tak terjadi apa-apa pada dirinya. Dengan
lancarnya dia menceritakan kronologis penyakitnya. Lutut kanannya bengkak,
lebih besar dari pertama kali aku menjenguknya.
![]() |
| ini dia fifah (sebelah kiri) |
Komunikasi kami masih berjalan,
walaupun jarang. . tapi aku berusaha menemaninya agar tak larut dalam kesepian.
Aku ingin menjadi teman yang selalu ada untuknya, aku tak mau dia merasa sepi.
Menjengukmu “lagi” aku tak peduli
dia bosan atau tidak dengan kehadiranku, yang aku ingin adalah melihat keadaannya
secara langsung tanpa ada yang disembunyikan. Kali ini sahabat baikku zie menemani
dia adalah sahabat baik kami.
| zie n me |
Aku senang melihat senyumannya
waktu itu, entahlah. .sangat terasa ada ketulusan yang mendalam di situ. Tapi
aku tak mengerti, kenapa dia menatapku begitu dalam, tatapan yang seolah ingin
dia rekam dalam otaknya. Seolah dia takut tak bisa melihatku lagi, dia tidak
ingin mengalihkan pandangannya. #jadi membuatku Ge-Er :D
Pamit pulang, dia sempat
melarangku pulang. . menyuruhku diam sebentar lagi. Entahlah dia aneh hari itu.
Dan ternyata. .setelah hari itu,
kurasa dia menjauh dariku. Ada jarak yang terbentang luas diantara kami. Smsku
tak dia balas, telepon pun tak pernah diangkat lagi. Aku tak mengerti apa
maksud dari sikapnya itu. Kesal, marah. . hanya itu yang ada dalam benakku. Tak
pernah terpikir olehku dia melakukan itu untuk kebaikanku.
Menjengukmu “LAGI” .hahahaha sepertinya ini sudah sangat
membosankan. Sikapnya berbeda padaku, kami bagaikan orang asing yang baru
bertemu. Perih hati ini, hikz karena aku sudah mengerti kenapa dia seperti itu.
Hanya saja keegoisan merajai diri, kemarahanku saja yang bisa aku perlihatkan. Ketika
hendak pulang, aku mengatakan hal yang tak seharusnya aku katakan “ya udah, ini
terakhir kali aku jenguk”. Aku pasti melukai hatinya, maaf . . :’(
Hingga bulan berikutnya aku
menjenguknya, dia tak ingin bertemu. Menurut ayah dan ibunya, keadaan tidak
memungkinkan untukku melihatnya. Aku hanya mendengar suaranya, “maaf ya. .”
Teman yang mengantarku, frid. .
hanya dia yang bisa menemui dan melihatnya. Sedangkan aku mengobrol dengan
ayahnya tentang perkembangan keadaannya. Ayahnya bilang, bengkaknya sudah
kempes semoga bisa cepat sembuh. Legaaaaaaaaa . dan ketika pulang, temanku
bilang keadaanya membaik, sebentar lagi juga sembuh. Horeeee . . . seperti
seorang anak kecil yang diberi permen manis senang . .ingin ku menjerit
mengucap syukur.
Tapi. . selang beberapa hari, ada
kabar buruk lagi. Dia sudah rela diamputasi. .kali ini, aku seperti seorang
anak yang permennya tadi direnggut, PAHIT!! Ternyata, keadaannya tak pernah
membaik. Esoknya. . esoknya . . dan esoknya, terus memburuk. Tangisku tak
tertahan . (Tapi, pantaskah aku menangisi keadaan ini, tak malukah aku melihat
ketegarannya?)
Ibuku bilang, aku harus
merelakannya. Pada akhirnya aku berdo’a “Ya Allah, jika baiknya dia bisa
sembuh. . maka kumohon sembuhkanlah dia. Tapi jika tidak, ambillah dia . . aku
rela. . aku tak sanggup melihat ia kesakitan, aku titip dia yan Allah . . “
2 hari setelah itu, aku dapat
kabar dia meninggal dunia. Seluruh tubuhku lemas, bergetar. .tapi tak ada
tetesan air mata. . kakakku menemaniku untuk menemuinya.
Teman-temanku menyambut
kedatanganku, menemaniku menuju tempatnya dishalatkan. Tapi terlambat,
ambulance yang membawamu melaju pergi. . aku terduduk lesu (dramatiiiisssssssss
serasa sinteron) hingga akhirnya aku dan kakakku diantar menyusul kerumahnya. Namun
terlambat lagi, dia sudah dimakamkan.
Kenapa kau tak menungguku? Seolah
kau tak ingin aku melihat jasadmu untuk terakhir kalinya, seolah kau tak ingin
aku melihatmu dalam kedaan terbujur kaku.
Hm. . hanya itu yang aku ingat,
kisah terakhir tentangnya.
Aku yakin, dia sudah tenang dan
mendapat tempat terbaik.
Ini hanya sekedar catatan kecil
untuk mengenangnya . .hheii


Tidak ada komentar:
Posting Komentar