memberi yang terbaik dan meraih yang terbaik

Halaman

Kamis, 11 April 2013

kenangan :D




Menyenangkan, mungkin itu kesan pertamaku mengenal dia. Entah sejak kapan, ada rasa yang tumbuh di hati kami. Tak bisa ditolak, dihentikan apalagi dibuang. Berusaha terus menutupi walau akhirnya kami mengungkapkan kehadiran rasa itu.

Indah, sekian lama menjalani hari-hari dengannya, walau kadang ada tetesan air mata, tapi setelah itu pasti dia lukis pelangi untukku. Selalu seperti itu.

Penyemangat, penasehat, penghibur dia bagai paket lengkap yang Tuhan kirimkan untukku. Tak pernah lelah menghibur dan menasehatiku.


Selalu kukatakan. . istirahat yang cukup, jangan telat makan, minum air putih yang banyak, jangan sampai sakit. Karena secerewet itu pula dia mengingatkanku untuk menjaga kesehatan. Masih kuingat acara perpisahan sekolah, ketika dia berjalan ke panggung untuk berphoto bersama teman-temannya. . ada yang salah dengan caranya berjalan. Ya . . kakinya sakit, jauh hari sebelum acara perpisahan itu dia sempat mengeluhkan tentang kakinya. Lutut kanannya sakit, “mungkin karena sering jalan jauh”. Itu katanya.

Selang beberapa bulan dari acara perpisahan itu, entah berapa kali dia mengeluhkan sakit di kakinya itu. Khawatir, aku hanya bisa menyuruhnya periksa dan istirahat.

Hm. . aku ngomel, mendengar dari adiknya dia sore-sore hujan-hujanan main bola. . kesel tau, aku di sini khawatir, dia malah asyik main bola. Padahal kakinya belum sembuh. (Tapi ada rasa sesal di hati, kalau saja aku tau itu adalah terakhir kalinya dia bisa main bola. . tak kan aku memarahinya. Hikz :’(

Mendengar kabar sakit kakinya tak kunjung sembuh, aku, zie dan mvit menjenguknya. Dia terlihat segar, sehat, ceria hanya saja lututnya agak bengkak. Hampir saja kami tidak bertemu karena dia mau pergi bermain dengan temannya. Ckck tak seperti orang sakit.

Itu adalah pertama kalinya aku datang ke rumahnya. Penuh perjuangan, ternyata rumahnya sungguh jauh dari rumahku :’D


mereka zie n mvit yg menemaniku




“Patah tulang, kakiku harus dipen”. Itu yang dia katakan padaku. Dan itu terakhir kalinya aku mendengar kabarnya dari drinya langsung. Karena kabarnya berikutnya aku dapat dari saudara dan teman-temannya.

HARUS DIAMPUTASI_ jasad ini serasa tersambar petir. . tak henti air mata ini mengalir. Tak henti pula ku panjatkan do’a untuk kesembuhannya.





Menjenguknya. . kali ini aku ditemani fifah dia terlihat tegar, seolah tak terjadi apa-apa pada dirinya. Dengan lancarnya dia menceritakan kronologis penyakitnya. Lutut kanannya bengkak, lebih besar dari pertama kali aku menjenguknya.


ini dia fifah (sebelah kiri)


Komunikasi kami masih berjalan, walaupun jarang. . tapi aku berusaha menemaninya agar tak larut dalam kesepian. Aku ingin menjadi teman yang selalu ada untuknya, aku tak mau dia merasa sepi.





Menjengukmu “lagi” aku tak peduli dia bosan atau tidak dengan kehadiranku, yang aku ingin adalah melihat keadaannya secara langsung tanpa ada yang disembunyikan. Kali ini sahabat baikku zie menemani dia adalah sahabat baik kami.



zie n me




Aku senang melihat senyumannya waktu itu, entahlah. .sangat terasa ada ketulusan yang mendalam di situ. Tapi aku tak mengerti, kenapa dia menatapku begitu dalam, tatapan yang seolah ingin dia rekam dalam otaknya. Seolah dia takut tak bisa melihatku lagi, dia tidak ingin mengalihkan pandangannya. #jadi membuatku Ge-Er :D

Pamit pulang, dia sempat melarangku pulang. . menyuruhku diam sebentar lagi. Entahlah dia aneh hari itu.



Dan ternyata. .setelah hari itu, kurasa dia menjauh dariku. Ada jarak yang terbentang luas diantara kami. Smsku tak dia balas, telepon pun tak pernah diangkat lagi. Aku tak mengerti apa maksud dari sikapnya itu. Kesal, marah. . hanya itu yang ada dalam benakku. Tak pernah terpikir olehku dia melakukan itu untuk kebaikanku.





Menjengukmu “LAGI”  .hahahaha sepertinya ini sudah sangat membosankan. Sikapnya berbeda padaku, kami bagaikan orang asing yang baru bertemu. Perih hati ini, hikz karena aku sudah mengerti kenapa dia seperti itu. Hanya saja keegoisan merajai diri, kemarahanku saja yang bisa aku perlihatkan. Ketika hendak pulang, aku mengatakan hal yang tak seharusnya aku katakan “ya udah, ini terakhir kali aku jenguk”. Aku pasti melukai hatinya, maaf . . :’(

Hingga bulan berikutnya aku menjenguknya, dia tak ingin bertemu. Menurut ayah dan ibunya, keadaan tidak memungkinkan untukku melihatnya. Aku hanya mendengar suaranya, “maaf ya. .”

Teman yang mengantarku, frid. . hanya dia yang bisa menemui dan melihatnya. Sedangkan aku mengobrol dengan ayahnya tentang perkembangan keadaannya. Ayahnya bilang, bengkaknya sudah kempes semoga bisa cepat sembuh. Legaaaaaaaaa . dan ketika pulang, temanku bilang keadaanya membaik, sebentar lagi juga sembuh. Horeeee . . . seperti seorang anak kecil yang diberi permen manis senang . .ingin ku menjerit mengucap syukur.





Tapi. . selang beberapa hari, ada kabar buruk lagi. Dia sudah rela diamputasi. .kali ini, aku seperti seorang anak yang permennya tadi direnggut, PAHIT!! Ternyata, keadaannya tak pernah membaik. Esoknya. . esoknya . . dan esoknya, terus memburuk. Tangisku tak tertahan . (Tapi, pantaskah aku menangisi keadaan ini, tak malukah aku melihat ketegarannya?)

Ibuku bilang, aku harus merelakannya. Pada akhirnya aku berdo’a “Ya Allah, jika baiknya dia bisa sembuh. . maka kumohon sembuhkanlah dia. Tapi jika tidak, ambillah dia . . aku rela. . aku tak sanggup melihat ia kesakitan, aku titip dia yan Allah . . “





2 hari setelah itu, aku dapat kabar dia meninggal dunia. Seluruh tubuhku lemas, bergetar. .tapi tak ada tetesan air mata. . kakakku menemaniku untuk menemuinya.

Teman-temanku menyambut kedatanganku, menemaniku menuju tempatnya dishalatkan. Tapi terlambat, ambulance yang membawamu melaju pergi. . aku terduduk lesu (dramatiiiisssssssss serasa sinteron) hingga akhirnya aku dan kakakku diantar menyusul kerumahnya. Namun terlambat lagi, dia sudah dimakamkan.

Kenapa kau tak menungguku? Seolah kau tak ingin aku melihat jasadmu untuk terakhir kalinya, seolah kau tak ingin aku melihatmu dalam kedaan terbujur kaku.





Hm. . hanya itu yang aku ingat, kisah terakhir tentangnya.

Aku yakin, dia sudah tenang dan mendapat tempat terbaik.

Ini hanya sekedar catatan kecil untuk mengenangnya . .hheii

Tidak ada komentar:

Posting Komentar