Hm. . mulai dari mana ya ? hhe
Oke, dimulai dari obrolan lewat sms, dia mengabari tentang keberadaannya
di sekitar bandung selama 5 hari. Dan dengan gurauan dia akan berkunjung ke
rumah. Sampai pada waktunya, sore hari terbentuk segaris senyuman di wajahku membaca
sms darinya “aku menuju ke sana”. Sibuk, dia berulang kali menelpon, menanyakan
kendaraan apa yang harus dia naiki untuk menuju ke rumahku. Setelah beberapa
kali menelpon, sempat turun melebihi tempat tinggalku dan akhirnya dia sampai,
di gerbang perumahan tempatku tinggal, aku meminta adikku menjemput dia, tapi
ternyata dia ditemani 3 teman.
Akhirnya aku berjalan keluar rumah dengan maksud
menjemputnya, kasian juga kalo dia tersesat.he Dari kejauhan aku melihat dia
dengan ketiga temannya, tidak sesuai petunjukku, dia malah belok kanan dan aku
segera menelponnya untuk memberitahu jalan yang benar .hahaha aku mengikuti
arahnya berjalan dan akhirnya dari ujung jalan aku melambaikan tangan. Deg !!
dia berjalan mendekat, semakin dekat, dan dekat. Aku terpaku sesaat, Sumpah salting
banget ! setelah sekian lama kenal, bertemu dan berteman baru kali ini aku
berhadapan dengan dia, bukan sebagai teman biasa, tapi sebagai seorang wanita
yang berhadapan dengan dia, pria yang entah sejak kapan mengisi hatinya yang
terdalam .huaaaa lebay maksimal. Hahaha
Tibalah di rumah, tiga temannya duduk berdempetan di satu
kursi panjang, sedangkan aku dan dia duduk bersebelahan tanpa bisa melihat satu
sama lain kecuali aku harus sedikit memiringkan badan menengok sebelah ke kiri.
Haha posisi yang aneh. Dia . . memperkenalkan ketiga temannya, satu persatu. . terharuuuuuu . . . dengan sikapnya ini. Beberapa kali mereka menyinggung soal pernikahan, candaan itu membuatku senyam senyum g jelas, haha tapi aku yakin dia tau aku belum siap soal itu, walaupun dia menanggapi candaan teman-temannya itu. Kakak
ku tiba2 menghampiri dan menitipkan keponakanku yang lucu karena ada keperluan
keluar sebentar, dan dengan semangat dia ingin menggendong ponakanku itu. Lagi,
aku kagum melihatnya menggendong bayi. Salah satu temannya pamit untuk pergi ke
mesjid, aku tunjukkan arahnya kemudian dua temannya yang lain ikut pergi. Tiba2
kponakanku menangis entah karena apa, haha dia bingung. . aku suruh dia berdiri
untuk menenangkan keponakanku itu dan . . . tak berhasil :p akhirnya
dikembalikanlah kponakanku itu pada ibunya. Hahaha sweet . . baru terpikir sekarang, kenapa tak aku abadikan moment manis
itu ? hehe
Berbincang sebentar, lebih tepatnya dia bertanya dan aku
menjawab. Sungguh, kaku sekali berhadapan dengannya tak seperti dulu, dulu . . apa karena ada perasaan ini dalam hati? entahlah
. Adzan maghrib berkumandang, dia pamit untuk ke mesjid, tapi dengan gurauannya
secara tidak langsung memintaku mengantarnya .haha aku diam memandang
punggungya menjauh, dan tiba2 dia menoleh, kembali . . berjalan ke arahku, ada
yang tertinggal, handphone nya yang sedang di charge di rumah. Kami kembali ke
rumah dan aku berikan handphonenya lalu dia pergi ke mesjid.
Beberapa saat kemudian dia kembali dari mesjid, tapi
sendirian. Kami kembali berbincang, sempat ada hal serius walau kembali
dipenuhi tawa tak jelas. Hha aku salting banget ih. Wkwk kakak menyuguhkan mie
rebus ketika ketiga temannya datang, dan aku yakin mereka kesulitan memegang
mangkuk yang panas itu, tapi cerdasnya entah ide siapa itu. . mereka menggunakan
alas cangkir untuk mangkuknya :D Selesai makan mereka keluar lagi dengan alasan
panas (tapi sepertinya mereka sengaja
memberi kami ruang untuk berbicara, walau ternyata kakak ada di balik lemari
yang membuat dia tetap tak dapat banyak berkata-kata).
Aku berpindah tempat duduk, bukan maksud menjauh . . aku
hanya ingin bisa melihat wajahnya. Wkwk tak jauh dari tempat dudukku ada tak
selempang dengan gantungan kunci Chelsea, spontan aku memegangnya dan tersenyum
mengatakan “eh Chelsea”. Dia, tiba2 melepaskan gantungan itu dan menyimpannya
di kursi. Hahaha aku tak bisa berkata-kata, maluuuuuuuuu .heu
![]() |
| gantungan kunci "chelsea" |
Hari semakin malam, sudah waktunya untuk pulang, khawatir tidak
ada kendaraan untuk pulang. Huaaaaaaaaa tak rela rasanya dia harus pulang, aku
hanya berharap waktu bisa berhenti sesaat, membiarkan kami berbincang, atau membiarkan
aku sekedar melihatnya lagi dan lagi, mendengar suaranya atau apapun
tentangnya. Tapi memang tak mungkin, mereka pamit pulang, aku mengantar sampai
di ujung pintu lalu melangkah lagi ke teras, melihatnya menjauh langkah demi
langkah ingin sekali menahannya pulang, ini sungguh membuatku gila. Hahaha
Senyum itu dia tinggalkan untukku di gerbang rumah, ya tepat
di sana dia meninggalkan senyuman manisnya untukku, hanya untukku .wkwk PeDe
tingkat tinggi.
Terimakasih sudah menjadi teman pertama yang mengunjungiku di rumah ini dan menjadi teman pertama yang berkenalan sekaligus menggendong keponakanku. hhe
#ruang hati yang berbunga ^_^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar